• TENS merupakan sebuah teknik penghilang nyeri (analgesik) yang sederhana dan non-invasive, yang telah digunakan secara luas di dunia medis oleh ahli fisioterapi, perawat, atau bidan. (Johnson, 1997; Pope, Mockett and Wright,1995; Reeve, Menon and Corabian, 1996; Robertson and Spurritt, 1998) • TENS biasanya juga digunakan untuk meringankan berbagai jenis nyeri, seperti nyeri paska persalinan, nyeri paska operasi, nyeri punggung, nyeri akibat artritis, nyeri neuropatik, nyeri menstruasi, nyeri kepala, dan migrain. (Hansson, 1999). • TENS merupakan teknik penghilang nyeri yang non-invasive ,tidak menyebabkan adiksi, dan hampir tanpa efek samping yang bermakna.
Latar belakang terapi TENS Nyeri (pain) Nyeri merupakan rasa atau sensasi yang paling sering dirasakan oleh setiap orang di manapun. Definisi nyeri adalah pengalaman sensorik (fisik) dan emosional (psikologis) yang tidak menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual (The International Association for the Study of Pain). René Descartes sudah mengemukakan teori mengenai nyeri (specificity theory) sejak abad ke-17, tetapi teori tersebut belum menggambarkan nyeri secara lengkap. Pada perkembangan selanjutnya teori nyeri lebih disempurnakan oleh Melzack & Wall melalui teorinya yang disebut gate control theory, pada tahun 1965. Teori ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai definisi dan mekanisme nyeri. Sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran, gate control theory disempurnakan dengan teori neuromodulasi dan neuroanatomi. Gate control theory inilah yang saat ini manjadi dasar teknologi terapi TENS (Transcutaneous Elaectrical Nerve Stimulator)
Mekanisme nyeri Proses terjadinya nyeri melibatkan beberapa organ pada sistem saraf manusia, seperti : 1. Organ perifer sebagai sumber nyeri. 2. Serabut saraf sebagai lintasan penghantar impuls atau rangsangan nyeri. 3. Medulla spinalis sebagai organ perantara antara organ perifer dan otak. 4. Sistem saraf pusat (batang otak, talamus, dan korteks serebri) sebagai pusat sensorik.  Sumber : McCance KL,Huether SE. Pathophysiology. 5th ed. Missouri:Moshby ; 2006.p.448-62. Tabel 1. Klasifikasi serabut – serabut saraf penghantar impuls nyeri. | Nama | Diameter (µm) | Kecepatan hantar (m/detik) | reseptor | | A α | 10 – 20 | 70 - 120 | Eferen otot | | A β | 6 – 12 | 30 – 70 | Reseptor : meissner, ruffini, paccini, merkel, akhiran sekunder spindel otot | | A γ | 2 – 10 | 10 – 50 | Eferen otot (intrafusal) | | A δ | 1 – 6 | 5 – 30 | Nosiseptor untuk mekanik, termal, mekanotermal (polimodal), reseptor rambut, reseptor visera | | C | <15 | 0,5 – 20 | Nosiseptor C, reseptor polimodal C, reseptor viseral, reseptor panas, dingin, dan mekanik | Sumber : Meliala Krt L.Terapi Rasional Nyeri. 1st ed.Yogyakarta:Aditya Media ; 2004.p.1-13. Melzack & Wall menjelaskan melalui gate control theory bahwa sensasi nyeri akan dirasakan bila impuls / rangsangan nyeri dari sumber nyeri berhasil dihantarkan oleh serabut saraf ke pusat nyeri di sistem saraf pusat (otak) melalui gerbang nyeri (pain gate). Gerbang nyeri dapat ditutup dengan cara mengaktifkan serabut saraf Aβ melalui rangsangan raba, tekanan, sentuhan, atau getaran (rangsangan TENS) pada sumber nyeri, sehingga impuls nyeri tidak diteruskan ke medula spinalis dan juga ke otak dan akhirnya seseorang tidak merasakan sensasi nyeri.

Gambar 2. Gate control theory. A) saat gerbang nyeri terbuka, rangsangan nyeri dapat dihantarkan ke otak sehingga timbul rasa nyeri. B) rangsangan dari TENS mengaktifkan serabut saraf Aβ untuk menutup gerbang nyeri, sehingga rasa nyeri tidak muncul. Tens 21 Penggunaan alat terapi TENS saat ini pada umumnya tidak praktis, karena diperlukan keterampilan dan pengetahuan khusus untuk menyesuaikan program yang ada pada alat terapi TENS dengan keluhan dan jenis terapi yang diinginkan. Akibatnya alat terapi TENS lebih banyak digunakan di klinik rehabilitasi medik dan fisioterapi. Kemajuan teknologi di dunia medis dan kesehatan memberikan banyak kemudahan, baik bagi praktisi medis maupun bagi masyarakat luas, salah satunya perkembangan pada teknologi TENS. Teknologi TENS terbaru yang berhasil dikembangkan saat ini menghadirkan alat terapi Tens 21 yang lebih praktis, lengkap, dan modern, sehingga lebih mudah digunakan, baik bagi para praktisi medis, maupun masyarakat umum. Hal ini memungkinkan penggunaan alat terapi TENS bukan hanya di klinik rehabilitasi medik dan fisioterapi, tetapi bisa juga di klinik – klinik lain, bahkan sebagai alat terapi rumah tangga. Keunggulan Tens 21 : Lengkap dan praktis, karena memiliki 3 (tiga) pilihan terapi.  Dilengkapi dengan temperatur (heat function) sampai 430C untuk melengkapi pilihan fisioterapi.  Tidak menimbulkan rasa nyeri pada permukaan kulit Teknologi TENS selama ini seringkali menimbulkan rasa nyeri pada permukaan kulit yang diterapi, akibat arus muatan listrik yang melalui permukaan kulit terlalu tinggi. Hal ini juga menyebabkan arus muatan listrik yang masuk ke lapisan di bawah kulit pada daerah nyeri menjadi berkurang (black pulse), sehingga efek terapi menjadi kurang maksimal.
|
|
| Tens 21 memiliki pola arus muatan listrik seperti parabola, dimana arus yang masuk melalui permukaan kulit tidak terlalu besar, tetapi terus meningkat saat memasuki lapisan di bawah kulit pada daerah nyeri (mengurangi black pulse). Dengan demikian efek terapi menjadi lebih maksimal
| Dapat digunakan sebagai alat terapi rumah tangga karena lengkap dan praktis. Sertifikasi   Rated Power Voltage : 220 V Power Consumption : 36 watt (Optimum) - 41 watt (Maximum) Class II Protection Against Electric Shock : B-type attachment Maximum Output Current : 19 mA (when connected with 1-kΩ load) Treatment Frequency : 3 Hz to 1,000 Hz Balance Adjustment : 25% in right/left output difference Timer : 15 minutes maximum Electrode Temperature : 43ºC maximum (in 5 steps) Dimensions : 378(W) x 280(D) x 210 (H) – (mm) Weight : 4,5 Kg Perhatian :   Nomor Pengesahan : Departemen Kesehatan Indonesia : DEPKES RI AKL 21403700039 Diimpor oleh:PT FORTUNE STAR INDONESIA Wisma Pondok Indah, Suite 407 Jl. Sultan Iskandar Muda Blok VTA Pondok Indah, Jakarta 12310 Telp: (62-21) 7697410 Fax: (62-21) 7507762
 |